Selamat Datang, Blog sahrilcatatan.blogspot.com

Rabu, 13 April 2011

Ayat-Ayar Sempalan Dalam Pengadaan Barang Dan Jasa

NAAS  nasib      Alung,    kontraktor  sepuh yang sudah puluhan tahun,  beranak pinak  menggeluti  dunia   jasa pemborongan,  tiga dokumen penawaran  yang Ia masukkan,   tak satupun dari  tiga penawaran  yang nyangkut jadi pemenang, justru sebaliknya  berguguran   satu-persatu.
 Menghadapi  kenyataan apes, Alung tak habis pikir  dan tak putus didera pertanyaan  dalam hati. Dimana kira-kira kelirunya dokumen penawaran yang Ia buat. Padahal menurutnya   tiga  dokumen  penawaran yang  Ia masukkan  ke kotak penawaran  sudah dibuatnya sebegitu   topcer. Yang membuat Alung  semakin penasaran,   tiga dokumen penawaran yang Ia masukkan,  pada saat pembukaan  penawaran, semua  menempati  peringkat penawaran  paling  rendah diantara seluruh penawaran peserta lelang.  Artinya  harapan  memenangkan tender sudah didepan mata.
Rasa penasaran Alung belakangan terjawab, dimana letak kelirunya.  Rupanya  ada  ayat-ayat  tambahan   yang dibuat oleh panitia,  yang Ia  lewatkan  pada saat membuat dokumen penawaran.  Ayat  tambahan inilah  yang menjadi  biang bergugurnya  tiga  sekaligus  penawarannya.  Mengetahui penyebab  dokumen penawarannya  gugur.  Alung  tidak  begitu saja sepenuhnya bisa langsung  menerima.  Alung   merasa ada sesuatu yang ganjil,  antara sesama  tiga panitia  lelang, dimana Ia  mendaftar sebagai peserta  lelang,   aturan     yang  dibuat   ketiga panitia itu tidak ada yang seragam.
 Bagaimana mungkin, ada   aturan  ayat  tambahan  bunyinya  A,     yang dibolehkan  oleh panitia 1, gugur di panitia 2. Aturan  ayat  tambahan bunyinya  B  yang di bolehkan oleh panitia 1 dan panitia  2, di gugurkan oleh panitia 3.
Alung  tak henti bertanya,    siapa kira-kira diantara tiga panitia 1, panitia 2 dan panitia 3,     yang benar dan siapa    yang keliru  dalam menetapkan  persyaratan  ayat-ayat  tambahan  sebagai aturaran  dalam pelelangan.  Padahal saat mengikuti penjelasan lelang. Tiga  panitia itu, semua memproklamirkan, bahwa mekanisme  proses lelang didasarkan pada Kepres  80.
 Nasib  yang dialami Alung,  tentu  tidak  hanya  Ia seorang diri.  Masih banyak rekanan-rekanan lain yang pernah bernasib  sama.  Gagal memenangkan tender pengadaan  lantaran tersandung ayat-ayat tambahan yang dibuat oleh panitia.   Padahal logika  awamnya, seharusnya  antara panitia satu dengan  yang lain  tidak perlu ada perbedaan. Sebab, pedoman yang dijadikan pegangan sumbernya satu   yakni Kepres 80 Tahun 2003.   Jadi  tidak mungkin ada Kepres-Kepres  lain.
Tapi kenyataan, dalam pelelangan,  ayat-ayat tambahan yang tidak jelas juntrung sumbernya banyak berkeliaran sebagai ayat-aya sempalan.  Sadisnya  lagi, ayat-ayat sempalan ini, kerap digunakan   panitia sebagai senjata  ampuh untuk menggugurkan peserta lelang.
Sekadar   contoh, satu dari sekian  banyak  ayat sempalan,   yang kerap dijumpai dalam  lelang-lelang pengadaan,   soal dukungan dealer atau pabrik yang acapkali dipersyaratkan sebagian panitia kepada peserta,  bahwa peserta harus  wajib  mengantongi dukungan dealer  atau pabrik untuk  dapat ditunjuk sebagai pemenang.    Kalau  persyaratan ini  tidak dipenuhi bakalan peserta dinyatakan   gugur.
Jelas aturan  ayat  sempalan   ini kalau mau ditelusuri pangkalnya  tidak  memiliki dasar. Dan ayat sempalan  ini sudah mengarah kediskriminatif,     siapa yang bisa menjamin, kalau pihak  dealer  atau pabrik  bisa bersikap adil kepada seluruh  rekanan  yang  datang meminta dukungan lalu  memberikan dukungan semuanya. Bisa saja hanya satu rekanan  yang diberikan surat dukungan.   Begitu juga segala macam  bentuk dukungan-dukungan lain  yang selalu diminta dan dipersyaratkan panitia pada lelang-lelang pengadaan. 
 Padahal,  walau  tanpa dukungan dealer atau   pabrik,  barang  itu  mudah didapatkan dipasaran  karena di jual  bebas,  yang penting  asal ada fulus. Menyangkut soal  dukungan,  Kepres 80 dengan tegas  hanya mengenal satu jenis dukungan yakni dukungan  bank 5 % sampai  10 %.   Dukungan-dukungan  lain, haram!
Kemudian, contoh  lain,   mengenai  ketentuan   sampul luar dokumen penawaran.  Panitia pengadaan kadang ada yang nyeleneh  mempersoalkan  masalah  bentuk dan warna sampul.  Padahal kalau mau dicarikan ayat di dalam Kepres 80 sebagai alasan  pembenar pasti tidak  ditemukan sepotong ayat pun. Sangat banyak ayat-ayat sempalan, yang   berkeliaran mewarnai lelang-lelang pengadaan. Seperti  soal  materai, antara dimatikan dan tidak dimatikan  dengan tanggal.  Juga kadang  disoalkan, padahal lagi-lagi di dalam Kepres 80 tidak ditemukan ayat yang  mengaturnya.
Sebenarnya kalaulah  panitia  sungguh-sungguh  pure, menerapkan  Kepres 80 sebagai satu-satunya  pedoman   yang   digunakan dalam pelelangan.  Semestinya ayat-ayat sempalan  tidak perlu  dibuat panitia.  Sebab, sangat jelas didalam Kepres 80 seluk beluk  pelelangan semua telah diatur,  mengenai persyaratan dan ketentuan  yang  harus  dipenuhi peserta lelang.  Mana yang dihalalkan, mana yang diharamkan.  Urutan-urutan  evaluasi,   juga sudah  terang benderang. Mulai dari evaluasi administrasi, tehnis, biaya dan kewajaran harga, lanjut   keevaluasi dokemen kualifikasi.
  Alung sangat  maklum  dengan ayat-ayat sempalan,  ingatannya langsung  tertuju  pada istilah ayat-ayat   sempalan  yang    lazim dikenal  dalam  ajaran-ajaran teologis,  dimana ayat-ayat sempalan  ini  sengaja dibuat oleh oknum tertentu,   untuk  menebar  keresahan  di tengah   ummat beragama  dengan   target   menyesatkan ummat.
Ternyata  dalam dunia pelelanganpun, tidak  sepi  dari yang   namanya ayat-ayat sempalan,    banyak bertebaran,   yang membuat    resah para kontraktor lantaran tidak adannya kepastian  aturan  dalam  pelaksanaan lelang. Masak  antara panitia satu dan lain tidak seragam.  Beda panitia, beda style  aturan  yang digunakan.  
Karut marutnya  aturan  pelaksanaan  tender pengadaan  barang  dan jasa disebabkan    ayat-ayat sempalan,   bisa jadi dikarenakan   murni kekurang profesionalan panitia,  panitia tidak tahu secara utuh Kepres 80 Tahun 2003.  Kalau ini letak masalahnya,  solusinya  hanya satu, panitia bersangkutan   diminta  untuk menuntaskan bacaannya  kembali, agar  khatam seluruh bab, pasal, ayat  di dalam Kepres 80 Tahun 2003.  Tapi   yang celaka,  kalau ayat-ayat sempalan sengaja di  buat oleh  oknum panitia,  karena  ada maksud  patgulipat  dengan peserta lelang.  Maka  kalau   ini   pangkal penyebabnya,    tidaklah  mudah menemukan terapinya,  karena menyangkut  masalah moral.  Moral panitia   yang sakit.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar