Selamat Datang, Blog sahrilcatatan.blogspot.com

Selasa, 12 April 2011

Pulau Sadau  Quo Vadis
PULAU  SADAU sebuah pulau kecil, yang terletak di sebelah  barat pantai  kota Tarakan, dengan  luas wilayah  daratan   kurang lebih sama  luasnya kelurahan Skip Kampung Satu,  yang     dihuni  para  nelayan yang    jumlahnya     tidak sampai  mencapai   seratusan  kepala keluarga.   Secara   administratif  pulau Sadau,  masih  merupakan  bagian  wilayah Pemerintah  kota Tarakan. Namun karena pulau  ini  dipisahkan  oleh  lautan   kurang lebih satu kilometer dari daratan  Tarakan,  membuat    pulau Sadau  terisolasi.
Suwaran merupakan wilayah daratan Tarakan yang paling  dekat ke pulau Sadau, untuk sampai ke pulau  Sadau,  butuh  waktu    sepuluh   menit dengan menggunakan  angkutan penyeberangan   perahu motor atau  speedboat. 
Begitu menginjakkan kaki di pulau Sadau,  suasana  kehidupan  sebuah kampung nelayan  yang  penuh kedamaian dan ketenangan jauh dari hiruk pikuk permasalahan kehidupan kota yang  centang perenang segera menyergap.  Suasana kampung nelayan  kian kental  manakala  melihat  permukiman  warga,   yang  diramaikan  rumah  panggung diatas air  dengan  posisi  membelakangi pantai.
Nyaris seluruh  bangunan   rumah  warga konstruksinya    terbuat dari bahan   material kayu  dengan   beratapkan    seng bahkan masih terdapat  ada beberapa rumah warga atapnya  dari pelepah  daun nipah.
Jika mencoba membandingkan  suasana lingkungan permukiman yang ada di pulau  ini dengan suasana  lingkungan  sebuah  RT  yang ada di kota Tarakan tentu  sangat jauh  berbeda.  Meski sekali lagi,  pulau Sadau masih  bagian  wilayah Pemerintah Tarakan. Akan tetapi, kondisi lingkungan permukiman  di pulau ini jauh  tertinggal.
 Bisa dilihat parasarana dan sarana permukiman  yang ada   di pulau ini, seperti keberadaan jalan-jalan lingkungan yang  menghubungkan antar rumah warga,  kondisinya  rusak berat,   tidak semulus jalan-jalan lingkungan semenisasi   yang  biasa di jumpai di lingkungan permukiman di kota Tarakan. 
Selain itu persediaan  air bersih di pulau ini,   sangat memprihatinkan.  Masyarakat  nelayan yang  yang  tinggal di pulau  ini,   belum  bisa  menikmati  yang namanya layanan  air  bersih.   Sebagai ganti   untuk  memenuhi kebutuhan  pasokan   air  bersih sehari-hari   terutama  buat  minum dan memasak, warga memperolehnya   secara alami   yakni dengan memanfaatkan  air hujan,  yang  di tadah   langsung  di profil penampungan. Selain air hujan,  untuk kebutuah   air  buat mandi dan mencuci sehari-hari,     warga masyarakat  memanfaatkan  sumur tanah    dan sumur bor bantuan pemerintah melalui  program PNPM Mandiri.  
Dulu sebelum ada sumur bor bantuan program PNPM Mandiri, warga nelayan  sulitnya minta ampun memenuhi kebutuhan air bersihnya, kalau sudah  musim kemarau berkepanjangan. Agar bisa tetap bisa  bertahan  hidup, terpaksa  para warga pulau  Sadau  harus bersusah   payah menyeberang ke sekatak atau ke Suwaran untuk  mengambil   air  bersih.
Sejatinya  pulau ini  memiliki    panorama alam  cukup indah. Suasana  keindahan alamnya  masih terlihat   asri,  dengan aneka pohon-pohon  yang tumbuh subur menghiasi  daratnya.   Begitu pun  pohon-pohon  bakau   yang khas  tumbuh  disekeliling    pantai memagari   pulau  Sadau tampak  hijau.  Di pulau ini masih terdapat aneka satwa burung hidup yang  saban hari    terdengar suara kicauannya  merangkai simfoni alam
Kalau berdiri pada salah satu  puncak ketinggian   di pulau ini, seraya menikmati hembusan angin  laut  bertiup sepoi-sepoi yang membawa gelombang laut pecah  dipantai. Selain itu, dari puncak ketinggian  pandangan bisa dengan leluasa  menikmati   indahnya  hamparan     panorama laut dimana  diatasnya  sibuk dilayari kapal-kapal  dan perahu nelayan bergerak  melintasi  pulau Sadau. Dari jauh wajah kota Tarakan tampak hanya bak fata morgana.   Apalagi menjelang senja   sangat cocok berlama-lama di pulau ini, menikmati pemandangan kemilau  sunset yang  kembali keperaduannya di ufuk sebelah barat pulau Sadau.
Sayang memang, potensi   pulau Sadau, belum disentuh dan dieksploitasi maksimal  untuk dijadikan  salah satu ikon    industri pariwisata kota Tarakan. Justru yang  terjadi  selama puluhan tahun,  pulau  ini hanya   dimanfaatkan  pemilik  perusahaan batu bara  sebagai tempat penampungan sementara gundukan  batu bara yang  hendak dikirim keluar pulau Tarakan. Para warga  masyarakat nelayan yang tinggal di pulau ini, juga tidak banyak  ketiban   rezeki,   dari perusahaan   batu bara yang beroperasi   di pulau  ini.  Malah yang di tangguk  para  warga  masyarakat  limbah sisa batu bara.
Patut disyukuri, meskipun  hitungannya  telat,    Pemerintah kota Tarakan  saat  ini tengah  merencanakan sebuah proyek  mercusuar  untuk  yakni rencana pembangunan   jembatan penghubung antara Tarakan dengan pulau Sadau.   Pembangunan infrastruktur  jembatan penghubung   ini nantinya diperuntukkan    untuk  membuka  isolasi pulau  Sadau dan  sekaligus  sebagai batu lompatan  bagi  pengembangan pulau  Sadau kedepan yang selama ini  rencana pengembangannya senantiasa berhadapan  dengan  lorong  buntu,   Mau diapakan?  Mau dikemanakan?  Pulau Sadau. 
 Sebagai  tahap awal untuk memulai rencana  pembangunan jembatan penghubung Tarakan-Sadau.  Pemerintah kota  telah menyusun  tahapan langkah  persiapan perencanaan  diantaranya  menyiapkan rencana  studi kelayakan  feasibility study   untuk mengkaji     sejauh mana  kelayakan atas   rencana pembangunan  jembatan Tarakan-Sadau   ditinjau dari  aspek  sosial, budaya, lingkungan, ekonomi, serta  aspek pertimbangan  untuk   kepentingan  kedepan.
Sedangkan persiapan tehnis, Pemerintah kota, telah melakukan road show kebeberapa daerah mencari referansi berkenaan desain   konstruksi   jembatan  yang  cocok  untuk    dipergunakan   dalam konstruksi  pembangunan  jembatan  penghubung Tarakan-Sadau.
Diantara sekian pilihan   yang  tersedia  dapat dipastikan  bahwa konstruksi jembatan penghubung Tarakan-Sadau   akan   direncanakan     menggunakan  sistem   tehnologi konstruksi kabel  style,  mengikuti  design  konstruksi    jembatan  yang  terdapat  di pulau Batam, separuh   jembatan Suramadu,  jembatan Kutai Kertanegara dan beberapa daerah lain di  tanah air..
Konstruksi kabel  style sangat cocok untuk jembatan bentangan  panjang menghubungkan  dua buah  daratan  yang  dipisahkan alur    sungai atau alur laut yang memiliki  bentangan  lebar.   Dengan  konstruksi jembatan  kabel style,   memungkinkan aktifitas   alur lalu lintas pelayaran  yang  melewati sungai  atau  lautan tidak terganggu. 
Memang soal anggaran, jangan  ditanya,  berapa besar   akan  dihabiskan untuk  membiayai anggaran  pembangunan   jembatan Tarakan-Sadau,  yang  terang   pembangunan    jembatan  dengan  menggunakan kabel   style bisa  menguras  APBD kota Tarakan.
Untuk   pembiayaan anggaran pembangunan   jembatan  penghubung  Tarakan-Sadau,  Pemerintah kota   tentu tidak  bisa  hanya  mengandalkan  APBD kota,   sangat dibutuhkan adanya strategi jitu    mencari sumber-sumber  pendanaan  lain,  salah satunya   yang bisa  dilakukan   dengan  menjaring sebanyak mungkin dana-dana APBN   yang banyak berseliweran di beberapa  departemen dan kementerian di pusat.
 Lobi Pemerintah kota sangat penting  untuk  meyakinkan Pemerintah pusat, bahwa pembangunan  jembatan  penghubung  Tarakan-Sadau  memiliki arti yang sangat  strategis untuk mewujudkan bersatunya   daratan  wilayah utara Kalimantan.   Dengan     pembangunan jembatan Tarakan- Sadau,  diharapkan jembatan penghubung  ini akan  menjadi batu lompatan  selanjutnya untuk membangun  jembatan penghubung dari pulau Sadau ke pulau Sekatak.
Terobosan  lain yang  bisa  diusahakan Pemerintah  kota, untuk menambal kekurangan pendanaan bagi rencana pembangunan jembatan Tarakan-Sadau, yakni  menghamparkan  karpet  merah panjang, bagi   para  investor luar untuk berminat  datang  menanamkan modal   di pulau Sadau. 
 Pemerintah dan  masyarakat Tarakan  harus fight  memperjuangkan pembangunan jembatan Tarakan-Sadau, agar  benar-benar  bisa menjadi  nyata bukan sekadar  ekspektasi.

Tarakan,13 April 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar