Pulau Sadau Quo Vadis
PULAU SADAU sebuah pulau kecil, yang terletak di sebelah barat pantai kota Tarakan, dengan luas wilayah daratan kurang lebih sama luasnya kelurahan Skip Kampung Satu, yang dihuni para nelayan yang jumlahnya tidak sampai mencapai seratusan kepala keluarga. Secara administratif pulau Sadau, masih merupakan bagian wilayah Pemerintah kota Tarakan. Namun karena pulau ini dipisahkan oleh lautan kurang lebih satu kilometer dari daratan Tarakan, membuat pulau Sadau terisolasi.
Suwaran merupakan wilayah daratan Tarakan yang paling dekat ke pulau Sadau, untuk sampai ke pulau Sadau, butuh waktu sepuluh menit dengan menggunakan angkutan penyeberangan perahu motor atau speedboat.
Begitu menginjakkan kaki di pulau Sadau, suasana kehidupan sebuah kampung nelayan yang penuh kedamaian dan ketenangan jauh dari hiruk pikuk permasalahan kehidupan kota yang centang perenang segera menyergap. Suasana kampung nelayan kian kental manakala melihat permukiman warga, yang diramaikan rumah panggung diatas air dengan posisi membelakangi pantai.
Nyaris seluruh bangunan rumah warga konstruksinya terbuat dari bahan material kayu dengan beratapkan seng bahkan masih terdapat ada beberapa rumah warga atapnya dari pelepah daun nipah.
Jika mencoba membandingkan suasana lingkungan permukiman yang ada di pulau ini dengan suasana lingkungan sebuah RT yang ada di kota Tarakan tentu sangat jauh berbeda. Meski sekali lagi, pulau Sadau masih bagian wilayah Pemerintah Tarakan. Akan tetapi, kondisi lingkungan permukiman di pulau ini jauh tertinggal.
Bisa dilihat parasarana dan sarana permukiman yang ada di pulau ini, seperti keberadaan jalan-jalan lingkungan yang menghubungkan antar rumah warga, kondisinya rusak berat, tidak semulus jalan-jalan lingkungan semenisasi yang biasa di jumpai di lingkungan permukiman di kota Tarakan.
Selain itu persediaan air bersih di pulau ini, sangat memprihatinkan. Masyarakat nelayan yang yang tinggal di pulau ini, belum bisa menikmati yang namanya layanan air bersih. Sebagai ganti untuk memenuhi kebutuhan pasokan air bersih sehari-hari terutama buat minum dan memasak, warga memperolehnya secara alami yakni dengan memanfaatkan air hujan, yang di tadah langsung di profil penampungan. Selain air hujan, untuk kebutuah air buat mandi dan mencuci sehari-hari, warga masyarakat memanfaatkan sumur tanah dan sumur bor bantuan pemerintah melalui program PNPM Mandiri.
Dulu sebelum ada sumur bor bantuan program PNPM Mandiri, warga nelayan sulitnya minta ampun memenuhi kebutuhan air bersihnya, kalau sudah musim kemarau berkepanjangan. Agar bisa tetap bisa bertahan hidup, terpaksa para warga pulau Sadau harus bersusah payah menyeberang ke sekatak atau ke Suwaran untuk mengambil air bersih.
Sejatinya pulau ini memiliki panorama alam cukup indah. Suasana keindahan alamnya masih terlihat asri, dengan aneka pohon-pohon yang tumbuh subur menghiasi daratnya. Begitu pun pohon-pohon bakau yang khas tumbuh disekeliling pantai memagari pulau Sadau tampak hijau. Di pulau ini masih terdapat aneka satwa burung hidup yang saban hari terdengar suara kicauannya merangkai simfoni alam
Kalau berdiri pada salah satu puncak ketinggian di pulau ini, seraya menikmati hembusan angin laut bertiup sepoi-sepoi yang membawa gelombang laut pecah dipantai. Selain itu, dari puncak ketinggian pandangan bisa dengan leluasa menikmati indahnya hamparan panorama laut dimana diatasnya sibuk dilayari kapal-kapal dan perahu nelayan bergerak melintasi pulau Sadau. Dari jauh wajah kota Tarakan tampak hanya bak fata morgana. Apalagi menjelang senja sangat cocok berlama-lama di pulau ini, menikmati pemandangan kemilau sunset yang kembali keperaduannya di ufuk sebelah barat pulau Sadau.
Sayang memang, potensi pulau Sadau, belum disentuh dan dieksploitasi maksimal untuk dijadikan salah satu ikon industri pariwisata kota Tarakan. Justru yang terjadi selama puluhan tahun, pulau ini hanya dimanfaatkan pemilik perusahaan batu bara sebagai tempat penampungan sementara gundukan batu bara yang hendak dikirim keluar pulau Tarakan. Para warga masyarakat nelayan yang tinggal di pulau ini, juga tidak banyak ketiban rezeki, dari perusahaan batu bara yang beroperasi di pulau ini. Malah yang di tangguk para warga masyarakat limbah sisa batu bara.
Patut disyukuri, meskipun hitungannya telat, Pemerintah kota Tarakan saat ini tengah merencanakan sebuah proyek mercusuar untuk yakni rencana pembangunan jembatan penghubung antara Tarakan dengan pulau Sadau. Pembangunan infrastruktur jembatan penghubung ini nantinya diperuntukkan untuk membuka isolasi pulau Sadau dan sekaligus sebagai batu lompatan bagi pengembangan pulau Sadau kedepan yang selama ini rencana pengembangannya senantiasa berhadapan dengan lorong buntu, Mau diapakan? Mau dikemanakan? Pulau Sadau.
Sebagai tahap awal untuk memulai rencana pembangunan jembatan penghubung Tarakan-Sadau. Pemerintah kota telah menyusun tahapan langkah persiapan perencanaan diantaranya menyiapkan rencana studi kelayakan feasibility study untuk mengkaji sejauh mana kelayakan atas rencana pembangunan jembatan Tarakan-Sadau ditinjau dari aspek sosial, budaya, lingkungan, ekonomi, serta aspek pertimbangan untuk kepentingan kedepan.
Sedangkan persiapan tehnis, Pemerintah kota, telah melakukan road show kebeberapa daerah mencari referansi berkenaan desain konstruksi jembatan yang cocok untuk dipergunakan dalam konstruksi pembangunan jembatan penghubung Tarakan-Sadau.
Diantara sekian pilihan yang tersedia dapat dipastikan bahwa konstruksi jembatan penghubung Tarakan-Sadau akan direncanakan menggunakan sistem tehnologi konstruksi kabel style, mengikuti design konstruksi jembatan yang terdapat di pulau Batam, separuh jembatan Suramadu, jembatan Kutai Kertanegara dan beberapa daerah lain di tanah air..
Konstruksi kabel style sangat cocok untuk jembatan bentangan panjang menghubungkan dua buah daratan yang dipisahkan alur sungai atau alur laut yang memiliki bentangan lebar. Dengan konstruksi jembatan kabel style, memungkinkan aktifitas alur lalu lintas pelayaran yang melewati sungai atau lautan tidak terganggu.
Memang soal anggaran, jangan ditanya, berapa besar akan dihabiskan untuk membiayai anggaran pembangunan jembatan Tarakan-Sadau, yang terang pembangunan jembatan dengan menggunakan kabel style bisa menguras APBD kota Tarakan.
Untuk pembiayaan anggaran pembangunan jembatan penghubung Tarakan-Sadau, Pemerintah kota tentu tidak bisa hanya mengandalkan APBD kota, sangat dibutuhkan adanya strategi jitu mencari sumber-sumber pendanaan lain, salah satunya yang bisa dilakukan dengan menjaring sebanyak mungkin dana-dana APBN yang banyak berseliweran di beberapa departemen dan kementerian di pusat.
Lobi Pemerintah kota sangat penting untuk meyakinkan Pemerintah pusat, bahwa pembangunan jembatan penghubung Tarakan-Sadau memiliki arti yang sangat strategis untuk mewujudkan bersatunya daratan wilayah utara Kalimantan. Dengan pembangunan jembatan Tarakan- Sadau, diharapkan jembatan penghubung ini akan menjadi batu lompatan selanjutnya untuk membangun jembatan penghubung dari pulau Sadau ke pulau Sekatak.
Terobosan lain yang bisa diusahakan Pemerintah kota, untuk menambal kekurangan pendanaan bagi rencana pembangunan jembatan Tarakan-Sadau, yakni menghamparkan karpet merah panjang, bagi para investor luar untuk berminat datang menanamkan modal di pulau Sadau.
Pemerintah dan masyarakat Tarakan harus fight memperjuangkan pembangunan jembatan Tarakan-Sadau, agar benar-benar bisa menjadi nyata bukan sekadar ekspektasi.
Tarakan,13 April 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar