Penanganan Banjir Tarakan Bak Menggantang Asap
MAKSUM, sapaan akrab lelaki paruh baya itu. Bukan nama sebenarnya. Saban hujan deras turun mengguyur Tarakan, rasa resah selalu mengelayuti perasaan Maksum. Bagaimana tidak, diujung pelupuk mata lelaki itu, telah terbayang banjir setinggi setengah lutut, akibat melubernya kali Karang Anyar, bakalan kembali merendam gubuk tua satu-satu miliknya dimana ia bersama anak isterinya tinggal.
Maksum, hanyalah satu potret kepala keluarga miskin yang selalu didera perasaan resah bilamana hujan lebat turun mengguyur bumi Tarakan. Selain Maksum, masih terdapat puluhan kepala keluarga yang tinggal disepanjang bantaran kali atau sungai Karang Anyar bernasib sama.
Ihwal ancaman banjir di kota Tarakan, sesungguhnya bukan hanya monopoli warga yang tinggal disepanjang bantaran sungai sekelas Maksun. Akan tetapi warga yang tinggal bermukim jauh dipusat kota pun yang dikelilingi saluran drainase berkilo panjangnya, tak luput dari ancaman serbuan banjir. Terutama saat hujan lebat. Berlangsung dalam tempo panjang.
Beberapa ruas jalan prokol dalam kota, sebut saja jalan Mulawarman, jalan Sudirman, jalan Sumatera, jalan Diponegoro, bahkan akses jalan yang menghubungkan ketempat vital sekalipun seperti jalan menuju masuk terminal bandara Juwata tidak luput direndam banjir akibat ketidakberdayaan saluran drainase mengalirkan debit air hujan yang jumlahnya jauh lebih besar.
Sementara daerah kawasan permukiman dalam kota yang selama ini akrab direndam banjir, yakni kawasan permukiman, Karang Anyar, Sebengkok, dan Selumit serta kawasan permukiman Pamusian. Keempat daerah ini, memang sejak dulu sudah dikenal rawan banjir. Lantaran posisi empat wilayah daerahnya dibelah langsung oleh aliran kali besar yang kondisi sungainya sudah sangat memprihatinkan, rusak berat akibat, sepanjang bantaran ke empat kali atau sungai ini diserbu oleh permukiman warga akibatnya proses pendangkalan dan penyempitan nyaris sepanjang aliran sungai tidak terhindarkan. Selain itu kebiasaan warga yang seenaknya membuang sampah rumah tangga ke kali juga ikut memperparah rusaknya kondisi sungai.
Memang masalah banjir akibat hujan lebat, acapkali memunculkan masalah bagi masyarakat Tarakan. Apalagi kalau banjir bersamaan pasangnya air laut. Sudah dapat dipastikan, kegiatan ekonomi warga masyarakat menjadi terganggu, bahkan bisa terhenti. Warga tidak bebas bepergian keluar rumah sebab genangan air mengepung dimana-mana dan sebagian besar ruas jalan protokol pun yang akan dilewati tergenang air yang menimbulkan kelumpuhan total.
Fenomena banjir kota Tarakan, berbarengan hujan lebat, memang saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. Mengingat, Tarakan termasuk kota yang memiliki tingkat curah hujan sangat tinggi setiap tahun. Dan gawatnya lagi Tarakan tidak mengenal adanya musim hujan maupun musim kemarau secara periodik, sebagaimana lumrahnya iklim kota-kota di Jawa. Sehingga banjir bersamaan turunnya hujan lebat diperkirakan bisa terjadi setiap saat.
Pemerintah Tarakan telah lama berjibakutai, melakukan pelbagai penanganan untuk meminimalkan banjir ataupun genangan air saat hujan deras turun. Terutama pada wilayah-wilayah yang dianggap paling parah terkena banjir. Sederet usaha yang telah dilakukan pemerintah, seperti melakukan normalisasi kembali sejumlah saluran, dan membangun drainase baru serta membangun folder-folder penampungan sementara air hujan. Penanganan lain, yang telah dan tengah masih dilakukan pemerintah, mempertahankan hutan kota, serta memperbanyak ruang terbuka hijau ditengah kota yang berfungsi sebagai kawasan resapan air. Dan yang tak kalah pentingnya, bagaimana membangun kesadaran warga masyarakat untuk turut bersama menanggulangi masalah banjir melalui serangkaian sosialisasi.
Pelbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk menangani perkara banjir, namun sejauh usaha itu, problem banjir sepertinya tidak kunjung tuntas. Pemandangan genangan air dalam kota dengan sangat mudah menjadi tontonan rutin dimana-mana setiap hujan deras. Semua usaha pemerintah yang telah dilakukan tak ubahnya, berusaha menggarami air laut. Sebab pangkal permasalahan banjir belum tertangani sepenuhnya.
Didalam master plan penanggulangan banjir kota Tarakan, yang selama ini tersimpan rapi dalam kotak pandora, pembangunan kanalisasi menjadi satu keniscayaan perlu disegerakan khususnya pada empat titik wilayah sungai besar yang membelah langsung kota Tarakan, yakni sungai Karang Anyar, sungai Selumit, sungai Sebengkok dan sungai Pamusian.
Untuk mewujudkan rencana pembangunan empat kanalisasi dalam kota, memang bukan perkara gampang, semudah membalikkan telapak tangan, yang namanya hambatan selalu pasti ada. Sekadar tak lupa menyebutkan contoh, proses pembangunan kanal sungai Karang Anyar yang belum tuntas. Sampai hari ini khabar kelanjutan pembangunannya masih diselimuti kabut teka-teki.
Selama dua periode masa pemerintahan Jusuf SK, dibaktikan untuk menuntaskan penyelesaian proyak pembangunan kanal sungai Karang Anyar yang pembangunannya direncanakan mulai dari hilir ke hulu sebagai solusi mengatasi persoalan banjir ditengah kota.
Namun apa hendak dikata, rencana mega proyek itu kenyataannya mangkrak ditengah jalan, keburu dihadang persoalan sosial yang peliknya selangit. Energi pemerintah kota, seolah terkuras habis hanya untuk mengurus soal tetekbengek yang kelihatannya sepele.
Dan untuk memulai kembali kelanjutan pembangunan kanalisasi sungai Karang Anyar, memang sampai saat ini belum menunjukkan titik terang. Untuk melanjutkan dibutuhkan adanya suatu upaya yang lebih massif dari seluruh pemangku kepentingan. Tidak hanya pemerintah, akan tetapi unsur elemen masyarakat dan DPRD kota pun harus terlibat.
Tidak elok khusus buat para anggota dewan, membiarkan kawan seiringan seperjalanan yang tidak lain adalah pemerintah kota, dibiarkan menyelesaikan masalah besar seorang diri, padahal itu untuk kepentingan kota Tarakan kedepan. Sementara para anggota DPRD duduk manis dibelakang meja berpuas diri. Mengusulkan proyek-proyek sebatas penujukkan langsung (PL) semenisasi dan gerbangnisasi.
Para anggota dewan terhormat saatnya ditunggu, untuk mau terlibat dalam proses penyelesaian pembangunan mega proyek kanalisasi sungai Karang Anyar yang tengah disandera permasalahan sosial yang menggurita. Tentu keterlibatan para anggota dewan bukan sekadar menyetujui penggelontoran dana untuk membiayai mega proyek itu. Akan tetapi peran keterlibatan dewan bisa bersama pihak pemerintah turun langsung kelapangan untuk meyakinkan masyarakat, bahwa pembangunan kanalisasi itu penting untuk masa depan bumi Paguntaka..
Haqqul yakin tanpa sokongan dari segenap para anggota dewan, semua usaha pemerintah hanya bak menggantang asap. Naïf pembangunan kanalisasi sungai Karang Anyar yang ukurannya jumbo dapat diteruskan. Kalau jalan skenario seperti demikian, jangan pernah warga masyarakat Tarakan bermimpi, Tarakan bisa bebas dari rendaman banjir. Tinggal menghitung ayunan bandul jam. Kapal besar bernama Paguntaka lambat laun akan karam kedasar lautan ditenggelamkan petaka air bah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar