Selamat Datang, Blog sahrilcatatan.blogspot.com

Selasa, 12 April 2011

Penanganan Banjir Tarakan Bak  Menggantang Asap

 MAKSUM,  sapaan    akrab lelaki paruh baya itu. Bukan nama sebenarnya.   Saban hujan deras  turun  mengguyur Tarakan,  rasa resah      selalu mengelayuti  perasaan Maksum.   Bagaimana   tidak, diujung  pelupuk mata  lelaki itu,  telah   terbayang   banjir setinggi setengah lutut,  akibat    melubernya    kali   Karang  Anyar,   bakalan kembali  merendam gubuk tua satu-satu miliknya   dimana  ia bersama anak isterinya  tinggal.
Maksum, hanyalah  satu  potret kepala  keluarga miskin  yang selalu  didera  perasaan  resah bilamana   hujan  lebat  turun mengguyur  bumi Tarakan.   Selain  Maksum,   masih  terdapat puluhan   kepala  keluarga    yang tinggal disepanjang bantaran  kali  atau sungai   Karang  Anyar   bernasib sama.
Ihwal ancaman banjir di kota Tarakan, sesungguhnya bukan hanya  monopoli  warga yang  tinggal disepanjang  bantaran sungai  sekelas  Maksun.  Akan  tetapi   warga  yang  tinggal bermukim jauh  dipusat   kota pun   yang  dikelilingi    saluran drainase berkilo panjangnya,   tak luput dari  ancaman serbuan   banjir.   Terutama saat  hujan lebat. Berlangsung  dalam tempo panjang.
Beberapa ruas jalan prokol dalam kota, sebut  saja  jalan Mulawarman, jalan  Sudirman, jalan Sumatera, jalan Diponegoro,  bahkan  akses jalan yang  menghubungkan ketempat  vital  sekalipun  seperti  jalan menuju  masuk terminal  bandara  Juwata  tidak luput direndam banjir akibat  ketidakberdayaan  saluran drainase mengalirkan debit air hujan yang  jumlahnya  jauh   lebih besar.
Sementara  daerah  kawasan    permukiman  dalam  kota   yang  selama ini akrab direndam  banjir, yakni kawasan permukiman,     Karang  Anyar,    Sebengkok, dan  Selumit  serta kawasan  permukiman Pamusian.  Keempat daerah   ini,  memang sejak  dulu sudah dikenal rawan banjir. Lantaran posisi   empat  wilayah daerahnya    dibelah   langsung oleh aliran   kali  besar yang  kondisi sungainya sudah sangat  memprihatinkan,  rusak berat       akibat, sepanjang bantaran ke empat  kali  atau  sungai ini diserbu  oleh permukiman warga akibatnya   proses pendangkalan  dan  penyempitan nyaris   sepanjang aliran  sungai tidak  terhindarkan. Selain  itu  kebiasaan  warga  yang  seenaknya membuang sampah  rumah  tangga ke kali  juga  ikut memperparah rusaknya kondisi sungai.
 
Memang masalah   banjir akibat  hujan lebat, acapkali memunculkan  masalah bagi  masyarakat  Tarakan.  Apalagi kalau  banjir bersamaan pasangnya air laut. Sudah  dapat  dipastikan,   kegiatan ekonomi warga  masyarakat  menjadi  terganggu,  bahkan  bisa  terhenti.  Warga  tidak bebas bepergian keluar rumah sebab   genangan air mengepung dimana-mana dan  sebagian  besar ruas jalan protokol pun   yang akan  dilewati tergenang air yang   menimbulkan kelumpuhan total.
Fenomena banjir  kota Tarakan,    berbarengan    hujan  lebat, memang saat  ini sudah sangat mengkhawatirkan. Mengingat,   Tarakan termasuk kota yang  memiliki tingkat  curah  hujan sangat  tinggi setiap tahun.   Dan  gawatnya  lagi Tarakan  tidak mengenal adanya  musim  hujan  maupun   musim  kemarau  secara periodik, sebagaimana   lumrahnya  iklim kota-kota di  Jawa.  Sehingga banjir  bersamaan  turunnya hujan  lebat diperkirakan  bisa terjadi setiap saat.
Pemerintah  Tarakan telah lama  berjibakutai, melakukan pelbagai  penanganan untuk  meminimalkan banjir ataupun  genangan air saat  hujan  deras  turun.  Terutama   pada  wilayah-wilayah  yang  dianggap paling   parah terkena banjir.   Sederet usaha  yang telah dilakukan    pemerintah, seperti  melakukan normalisasi kembali sejumlah saluran,  dan membangun  drainase baru  serta    membangun folder-folder  penampungan sementara air hujan.  Penanganan   lain, yang  telah dan  tengah masih  dilakukan    pemerintah, mempertahankan hutan  kota,  serta  memperbanyak  ruang   terbuka  hijau  ditengah   kota  yang  berfungsi sebagai kawasan resapan  air. Dan yang tak kalah pentingnya, bagaimana membangun  kesadaran  warga masyarakat untuk turut bersama menanggulangi  masalah  banjir  melalui serangkaian sosialisasi.
Pelbagai  upaya yang  telah dilakukan      pemerintah  untuk  menangani  perkara banjir, namun sejauh usaha itu,  problem   banjir sepertinya  tidak  kunjung  tuntas.  Pemandangan genangan  air dalam  kota dengan sangat mudah menjadi  tontonan rutin  dimana-mana setiap  hujan deras. Semua usaha pemerintah yang  telah  dilakukan tak  ubahnya,  berusaha menggarami  air   laut.  Sebab pangkal permasalahan banjir  belum  tertangani sepenuhnya.
 Didalam master plan   penanggulangan  banjir kota Tarakan,  yang  selama  ini tersimpan  rapi  dalam  kotak pandora, pembangunan kanalisasi  menjadi satu   keniscayaan perlu  disegerakan khususnya pada empat  titik wilayah sungai besar yang membelah langsung kota Tarakan, yakni  sungai   Karang  Anyar,  sungai  Selumit, sungai  Sebengkok dan  sungai Pamusian.
Untuk mewujudkan  rencana  pembangunan empat  kanalisasi dalam  kota, memang bukan  perkara gampang, semudah  membalikkan  telapak  tangan, yang  namanya  hambatan selalu pasti  ada.  Sekadar tak  lupa  menyebutkan contoh,  proses pembangunan kanal  sungai Karang Anyar yang  belum  tuntas. Sampai hari  ini khabar  kelanjutan pembangunannya masih diselimuti kabut teka-teki.

Selama  dua  periode masa pemerintahan  Jusuf  SK, dibaktikan  untuk  menuntaskan  penyelesaian  proyak  pembangunan kanal  sungai  Karang  Anyar  yang  pembangunannya direncanakan mulai  dari hilir   ke hulu sebagai solusi  mengatasi persoalan banjir ditengah kota.
Namun apa hendak dikata, rencana mega proyek  itu kenyataannya  mangkrak  ditengah jalan, keburu    dihadang  persoalan  sosial yang peliknya  selangit. Energi pemerintah kota, seolah   terkuras  habis hanya  untuk  mengurus soal tetekbengek  yang  kelihatannya  sepele.  
Dan untuk  memulai  kembali kelanjutan   pembangunan  kanalisasi  sungai  Karang Anyar, memang sampai  saat  ini belum  menunjukkan  titik  terang.  Untuk  melanjutkan  dibutuhkan  adanya suatu  upaya yang   lebih  massif   dari seluruh pemangku  kepentingan.  Tidak  hanya pemerintah, akan  tetapi  unsur  elemen  masyarakat dan   DPRD kota pun harus  terlibat. 
Tidak  elok  khusus buat para  anggota  dewan,  membiarkan kawan seiringan  seperjalanan yang    tidak  lain  adalah  pemerintah  kota, dibiarkan  menyelesaikan  masalah  besar seorang diri,  padahal itu untuk kepentingan kota  Tarakan  kedepan.    Sementara  para anggota DPRD duduk  manis  dibelakang  meja berpuas  diri. Mengusulkan proyek-proyek sebatas  penujukkan  langsung (PL) semenisasi dan gerbangnisasi. 
Para anggota dewan  terhormat saatnya  ditunggu,    untuk  mau  terlibat dalam proses penyelesaian pembangunan  mega  proyek kanalisasi sungai  Karang  Anyar  yang tengah  disandera  permasalahan   sosial yang  menggurita.  Tentu  keterlibatan para  anggota  dewan bukan sekadar menyetujui  penggelontoran  dana  untuk membiayai  mega proyek  itu. Akan  tetapi peran  keterlibatan  dewan bisa bersama pihak  pemerintah turun  langsung kelapangan  untuk  meyakinkan masyarakat, bahwa  pembangunan  kanalisasi  itu penting untuk  masa  depan  bumi  Paguntaka.. 
Haqqul yakin  tanpa  sokongan  dari segenap para anggota dewan,  semua  usaha pemerintah hanya bak  menggantang  asap.  Naïf  pembangunan kanalisasi  sungai  Karang Anyar yang  ukurannya jumbo  dapat   diteruskan.    Kalau  jalan skenario  seperti  demikian,  jangan pernah  warga  masyarakat  Tarakan bermimpi,    Tarakan  bisa bebas dari  rendaman banjir. Tinggal  menghitung ayunan bandul jam.   Kapal   besar bernama  Paguntaka   lambat laun    akan karam kedasar lautan  ditenggelamkan   petaka  air bah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar