Iman Para Kontraktor
SYAHDAN, suatu ketika seorang bapak yang usianya sudah memasuki usia senja, berpesan kepada anak laki-laki semata wayangnya. “ Kalau ingin hidup tenang jangan memilih pekerjaan pemborong sebagai jalan hidup. “ Tanpa merinci lebih lanjut. Kalimat sang bapak berhenti sebatas itu.
Si anak yang duduk dengan wajah menunduk di hadapan sang bapak. Mendengar kalimat sang bapak, seolah dibuat terkesiap, tak paham, apa maksud dibalik kalimat sang bapak. Si anak, menangkap kalau kalimat bapaknya itu serasa ganjil. Seingat si anak, bukankah bapaknya sendiri selama ini bekerja sebagai seorang pemborong. Lantas mengapa bapaknya berkata seperti itu.
Tapi si anak ketika itu usianya masih belia, dan sepertinya tidak ingin membiarkan pikirannya berlama-lama terperangkap dalam pusaran pertanyaan yang tidak bertepi. Dan si anak berpendapat kalau belum saatnya memaksakan diri untuk segera tahu. Yang terpenting baginya, sikap patuh sebagai seorang anak wajib ditunjukkan dihadapan bapaknya.
Kurang lebih tiga dekade berselang, si anak yang pernah dinasehati sang bapak, telah tumbuh menjadi sosok pengusaha muda yang sukses, sebagai pemborong. Seperti kata para paderi dalam tiap khotbahnya. Tak seorangpun bisa menebak takdir dilaluinya. Pun demikian si anak, tidak dapat menebak takdinya sendiri.
Kenyataan siapa sangka takdir si anak menjadi seorang pemborong. Walau sejatinya, si anak mula awalnya sudah berupaya keras tetap patuh mengikuti keinginan nasehat sang bapak. Namun usahanya berujung kesia-siaan. Si pemilik takdir lebih digdaya.
Dalam melakoni takdirnya sebagai seorang pemborong, si anak tetap tidak pernah alpa dengan nasehat sang bapak. Bagi si anak, nasehat sang bapak diterjemahkannya sebagai sebuah peringatan untuk selalu menuntun langkahnya. Boleh jadi, tatkala sang bapak memberinya nasehat, sepertinya sang bapak telah mendapat firasat, kalau kelak anak laki-laki semata wayangnya itu kelak akan ditakdirkan mengikuti jejaknya sebagai seorang pemborong.
Kemungkinan muncul kekhawatiran sang bapak kepada si anak, manakala mengikuti jejaknya sebagai pemborong. Pekerjaan pemborong akan mengubah tabiatnya. Sebab pekerjaan seorang pemborong, sangat mudah mengubah tabiat seseorang berperilaku menjadi seorang kleptomania. Kalau tidak dituntun dengan sikap lurus, siapapun bisa terperosok menjadi pengidap kleptomania dibalik jubah keshalehan.
Berkat nasehat sang bapak, sikap lurus telah menuntun langkah si anak menekuni jalan hidupnya sebagai pemborong. Tidaklah heran kalau dimata sesama pemborong, si anak di juluki pemborong shaleh. Pemborong yang selalu jujur dan amanah. Segala perilaku kleptomania yang menjadi iman kontraktor, mencuri-curi volume, mengurangi spesifikai material yang lazim di halalkan kontraktor untuk menggasak keuntungan yang tidak wajar sudah ditalak tiganya.
Bagi si anak, bekerja sebagai seorang pemborong sama dengan pekerjaan seorang pedagang yang tidak diperkenankan mempermainkan timbangan dengan jalan mengurangi takaran. Pekerjaan seorang pemborong sama dengan pekerjaan pedagang tidak diperkenankan menjual barang dengan menukar kualitasnya.
Mengurangi mutu spesifikasi campuran beton: 1:2:3 menjadi 1:4:8 sama halnya mengurangi takaran dalam timbang. Memasang material bahan yang tidak sesuai dengan spesifikasi dari (kwalitas nomor 1) KW 1 menjadi (kwalitas nomor 2) KW 2 sama halnya menukar kualitas barang.
Patut kemudian kalau ada pekerjaan proyek semenisasi jalan lingkungan belum sampai umur rencana, batu kerikil sudah pada berserakan tidak karuan, terlepas dari ikatan campuran beton gara-gara mengurangi takaran campuran tidak sesuai spesifikasi.
Seiring perjalanan waktu, si anak tetap berusaha menyingkap tabir makna dibalik nasehat sang bapak. Hingga pada suatu sore. Si anak seperti biasa selepas melaksanakan shalat azhar, selalu menghabiskan waktu duduk bertafakur pada salah satu sudut ruang masjid. Ditengah menikmati kekhusuan seorang diri, si anak merasakan ada perasaan gelisah berkecamuk di dalam lubuk hatinya. Si anak merasa mulai ragu, tidak yakin kalau seluruh harta kekayaan dan kemewahan yang didapatkan dari usahanya sebagai kontraktor. Terbebas dari praktek kleptomania.
Siapa yang menjamin kalau tenaga yang dipekerjakannya dilapangan tidak pernah abai pada saat mengaduk campuran semen, pasir, kerikil dengan spesifikasi : 1:2:3, sudah benar sesuai takaran. Bagaimana kalau kenyataannya perbandingan campuran itu tidak sesuai lantaran takaran kurang satu kerkil.
Seluruh badan si anak bersimbah keringat dingin. Bagaimana mempertanggung jawabkan kelak kekurangan itu akibat kelalaiannya, dihadapan sang hakim yang maha adil seadil-adilnya di yaumul mizan. Bukankah, sebuah kecelakaan besar bagi orang-orang, apabila menakar atau menimbang, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang agung. yaitu hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan alam semesta.
Kegelisahan hebat telah menguasai seluruh diri si anak yang membuatnya jatuh dari duduknya tak sadarkan diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar