Selamat Datang, Blog sahrilcatatan.blogspot.com

Rabu, 13 April 2011

      Iman Para Kontraktor

SYAHDAN, suatu ketika  seorang bapak  yang  usianya sudah  memasuki  usia senja,   berpesan   kepada  anak laki-laki  semata  wayangnya. “ Kalau ingin  hidup  tenang   jangan  memilih pekerjaan  pemborong sebagai jalan  hidup. “ Tanpa merinci lebih  lanjut. Kalimat  sang bapak  berhenti sebatas itu.
Si   anak yang  duduk dengan  wajah menunduk di hadapan   sang  bapak. Mendengar kalimat sang  bapak,  seolah dibuat terkesiap,  tak paham,  apa   maksud dibalik  kalimat sang bapak. Si anak,   menangkap kalau kalimat  bapaknya  itu  serasa  ganjil.  Seingat  si  anak,  bukankah bapaknya   sendiri    selama  ini bekerja   sebagai seorang  pemborong.  Lantas mengapa   bapaknya  berkata seperti    itu.
Tapi si  anak  ketika itu usianya masih belia,  dan sepertinya tidak  ingin  membiarkan pikirannya  berlama-lama  terperangkap dalam pusaran  pertanyaan   yang  tidak  bertepi.      Dan  si  anak  berpendapat  kalau belum  saatnya    memaksakan  diri untuk  segera  tahu.  Yang terpenting baginya, sikap  patuh  sebagai  seorang  anak  wajib ditunjukkan dihadapan bapaknya.
Kurang lebih tiga  dekade  berselang,   si anak  yang pernah  dinasehati  sang bapak,     telah tumbuh  menjadi  sosok pengusaha  muda yang sukses, sebagai  pemborong.  Seperti kata  para paderi  dalam tiap  khotbahnya.  Tak  seorangpun       bisa  menebak  takdir dilaluinya.  Pun demikian    si anak,    tidak  dapat menebak takdinya sendiri. 
Kenyataan siapa  sangka  takdir  si  anak menjadi seorang  pemborong.  Walau sejatinya,  si anak    mula awalnya sudah berupaya  keras tetap patuh mengikuti  keinginan  nasehat  sang bapak.  Namun usahanya berujung   kesia-siaan. Si  pemilik  takdir  lebih  digdaya.
  Dalam melakoni  takdirnya  sebagai seorang   pemborong,    si anak tetap    tidak pernah  alpa  dengan  nasehat   sang bapak. Bagi si anak,   nasehat sang  bapak  diterjemahkannya  sebagai sebuah  peringatan untuk selalu menuntun langkahnya.    Boleh jadi, tatkala sang bapak memberinya  nasehat, sepertinya    sang bapak   telah  mendapat  firasat,  kalau kelak  anak laki-laki semata  wayangnya itu   kelak   akan ditakdirkan  mengikuti jejaknya  sebagai  seorang pemborong.  
 Kemungkinan muncul  kekhawatiran sang  bapak   kepada si anak,    manakala mengikuti  jejaknya sebagai  pemborong. Pekerjaan pemborong  akan  mengubah  tabiatnya.  Sebab pekerjaan  seorang  pemborong, sangat mudah  mengubah  tabiat    seseorang berperilaku menjadi   seorang  kleptomania.   Kalau  tidak    dituntun  dengan  sikap lurus, siapapun  bisa  terperosok   menjadi  pengidap   kleptomania  dibalik  jubah  keshalehan.
Berkat nasehat  sang bapak,   sikap lurus telah    menuntun langkah si  anak  menekuni  jalan  hidupnya  sebagai pemborong.  Tidaklah  heran  kalau  dimata  sesama pemborong,    si anak  di juluki pemborong shaleh.  Pemborong  yang selalu   jujur dan  amanah.   Segala perilaku kleptomania yang menjadi iman kontraktor,    mencuri-curi  volume, mengurangi spesifikai  material yang  lazim  di halalkan   kontraktor  untuk  menggasak   keuntungan yang  tidak wajar  sudah ditalak  tiganya.  
Bagi  si anak, bekerja  sebagai    seorang  pemborong  sama  dengan pekerjaan   seorang  pedagang yang  tidak diperkenankan mempermainkan  timbangan dengan  jalan    mengurangi  takaran.  Pekerjaan  seorang  pemborong  sama  dengan  pekerjaan  pedagang  tidak diperkenankan   menjual  barang dengan  menukar kualitasnya.
 Mengurangi  mutu spesifikasi  campuran  beton: 1:2:3  menjadi 1:4:8   sama halnya mengurangi  takaran  dalam timbang.  Memasang  material  bahan  yang  tidak  sesuai dengan  spesifikasi  dari  (kwalitas nomor 1)   KW 1 menjadi  (kwalitas  nomor  2) KW  2   sama  halnya menukar kualitas   barang.
Patut    kemudian    kalau ada  pekerjaan  proyek  semenisasi  jalan  lingkungan    belum   sampai  umur  rencana,     batu  kerikil  sudah pada  berserakan    tidak  karuan,  terlepas dari ikatan campuran  beton  gara-gara  mengurangi  takaran campuran tidak  sesuai spesifikasi.
Seiring perjalanan waktu, si anak  tetap berusaha  menyingkap  tabir        makna  dibalik nasehat sang  bapak.      Hingga  pada suatu  sore.  Si anak  seperti  biasa selepas  melaksanakan shalat azhar, selalu menghabiskan  waktu duduk bertafakur pada salah satu sudut ruang masjid.  Ditengah menikmati kekhusuan seorang  diri,  si anak merasakan ada   perasaan  gelisah  berkecamuk  di dalam lubuk hatinya.  Si anak  merasa mulai ragu,  tidak  yakin kalau  seluruh   harta kekayaan  dan  kemewahan yang  didapatkan dari  usahanya  sebagai  kontraktor.  Terbebas    dari  praktek  kleptomania.
Siapa   yang  menjamin   kalau tenaga   yang  dipekerjakannya  dilapangan tidak  pernah  abai pada saat mengaduk campuran semen, pasir, kerikil   dengan  spesifikasi  : 1:2:3,  sudah  benar  sesuai  takaran.  Bagaimana  kalau kenyataannya   perbandingan  campuran itu  tidak  sesuai lantaran  takaran  kurang satu  kerkil.
Seluruh  badan si anak bersimbah  keringat  dingin.  Bagaimana  mempertanggung jawabkan  kelak kekurangan  itu akibat kelalaiannya,   dihadapan sang hakim yang  maha adil seadil-adilnya di yaumul mizan. Bukankah, sebuah kecelakaan  besar bagi  orang-orang, apabila menakar atau  menimbang, mereka  mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang agung. yaitu hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan alam semesta.  
Kegelisahan  hebat telah  menguasai seluruh diri  si  anak yang membuatnya  jatuh dari  duduknya  tak sadarkan  diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar